presiden Joe Biden menyatakan bahwa Amerika Serikat akan bergabung kembali dalam Paris Agreement (Sumber : ugolini.com)

Carissa Edna Putri (2021)

Dalam beberapa jam setelah pengangkatannya sebagai Presiden ke-46 Amerika Serikat, Presiden Joe Biden meluncurkan beberapa  kebijakan yang dirasa cukup signifikan untuk mengawali masa kepemimpinannya, salah satunya adalah kebijakan untuk mengembalikan Amerika Serikat ke dalam Perjanjian Paris. Kebijakan ini bukan lah sesuatu yang mengejutkan menimbang bahwa Amerika Serikat adalah salah satu negara yang menggagas terbentuknya perjanjian ini namun memutuskan untuk mengundurkan diri di tahun 2017 ketika pemerintahan Presiden Donald Trump masih berlangsung. Hal yang membuat keputusan Biden di awal pemerintahannya ini menjadi sesuatu yang menarik adalah sikap Amerika Serikat yang terkesan buta dalam memahami pandangan miring negara-negara lain terhadap komitmen Amerika Serikat yang sebenarnya.

Tindakan Amerika yang memiih untuk mundur begitu saja di tahun 2017 dianggap banyak negara sebagai sebuah kegagalan mempertahankan komitmen yang cukup serius. Amerika Serikat sebagai negara penghasil emisi karbon dioksida terbesar kedua di dunia setelah China, serta negara yang meninggalkan jejak karbon terbesar di muka bumi, seharusnya bersikap suportif dan ‘sadar’ dengan perubahan iklim yang sudah mengkhawatirkan. kenyataannya, Amerika Serikat mengecewakan banyak pihak dengan memilih untuk tidak melanjutkan lagi keikutsertaannya dalam kebijakan yang dia ajukan sendiri. Sampai akhirnya pergantian presiden pun terjadi dan kebijakan lain dikeluarkan.

Kembalinya Amerika ke dalam Paris Agreement memang disambut baik banyak pihak, mulai dari masyarakat Amerika sendiri maupun komunitas internasional. di lain sisi, pandangan tidak meyakinkan dari negara-negara lain terhadap kesungguhan Amerika Serikat juga dapat dirasakan. Negara-negara lain khususnya negara-negara berkembang maupun negara-negara kepulauan yang terdampak besar dari perubahan iklim menganggap perlu ada pembuktian berupa aksi nyata dari Amerika Serikat untuk dapat meningkatkan kredibilitas negara tersebut supaya mereka dapat dikatakan berhak untuk kembali lagi. Negara-negara yang terdampak ini punya alasan tersendiri yang membentuk pandangan seperti itu. Perubahan iklim adalah isu yang sangat mereka rasakan secara nyata. Negara-negara kepulauan harus menghadapi badai yang semakin buruk setiap tahunnya, kenaikan air laut yang dikhawatirkan dapat menenggalamkan pulau-pulau kecil yang mereka miliki. Semua pengaruh buruk perubahan iklim harus mereka rasakan di saat Amerika Serikat masih menganggap sepele perjanjian mengenai penanganan perubahan iklim ini.

Ketidakpedulian yang Amerika tunjukan ketika berusaha menarik diri perjanjian ini tidak hanya melukai negara-negara yang harus terkena dampak dari perubahan iklim tapi juga memberikan nilai buruk bagi keefektifan Paris Agreement. Banyak negara yang jadi ikut mempertanyakan apakah perjanjian yang telah dibuat ini benar-benar dapat dijalankan atau hanya sekedar pertarungan kepentingan beberapa negara untuk bisa mengeksploitasi negara lain. Banyak negara yang kemudian memilih untuk bersikap tidak peduli dengan dalih negara penggagasnya saja malah memilih untuk pergi, untuk apa mereka peduli.

Amerika Serikat memiliki pekerjaan rumah yang besar dalam menghadapi pandangan-pandangan miring yang mereka terima perihal kekuatan komitmen mereka dalam menjalankan perjanjian megenai perubahan iklim ini. Keputusan Biden untuk memberikan perjanjian ini kesempatan kedua adalah sebuah langkah awal yang punya pengaruh signifikan, tidak hanya bagi negara-negara yang punya harapan besar akan keberlangsungan perjanjian ini namun juga bagi Amerika Serikat dalam usaha mereka mengambil kembali posisinya sebagai salah satu negara yang berpengaruh dalam perjanjian ini. Amerika Serikat perlu menunjukkan bahwa kali ini mereka tidak main-main lagi. Ada isu penting yang mengancam kondisi kehidupan umat manusia yang harus diselesaikan, dan semua negara perlu saling membantu untuk dapat menyelesaikannya.

Keseluruhan opini dalam tulisan ini merupakan pandangan penulis dan tidak merepresentasikan PCD Studies Center

 

 

0Shares

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *