Vaksin COVID-19 untuk Pengungsi: Bentuk Kepedulian dan Tantangan bagi Negara

Fifi Melyna Halim (2021)

Akhirnya setelah berbulan bulan, upaya pencegahan virus COVID-19 mendapatkan secercah harapan ketika vaksin COVID-19 telah lulus uji dan siap didistribusikan oleh COVID-19 Vaccines Global Access (COVAX), dan World Health Organization (WHO) secara merata. Hal ini menjadi tanda baik bagi seluruh masyarakat dunia dikarenakan Pandemi COVID-19 telah memberikan kerugian terhadap hampir seluruh sektor yang menunjang kehidupan bermasyarakat di dunia secara khusus sektor ekonomi. Adapun pemerintah negara-negara menyiapkan dana khusus untuk penyediaan vaksin tersebut dan mengupayakan setiap warga negaranya untuk melakukan vaksinasi COVID-19 sebagai permulaan dalam memperbaiki keadaan. Namun yang menjadi pertanyaan, bagaimana dengan penyediaan vaksin bagi pengungsi disebuah negara? Secara khusus di negara-negara yang menjadi tujuan persinggahan pengungsi.

Pada realitasnya, masing-masing negara akan tetap menjadikan warga negara mereka sebagai prioritas utama penerima vaksin. Hal ini sangat wajar mengingat negara bertanggung jawab demi keselamatan dan kesejahteraan warga negaranya. Sehingga ini tidak mengejutkan ketika pemberian vaksin kepada para pengungsi kerap kali dikesampingkan. Padahal, perlu diperhatikan bahwa pemberian vaksin bagi para pengungsi sama pentingnya seperti warga negara. Ditambah lagi situasi para pengungsi yang kerap sangat rentan terhadap penularan virus COVID-19 dikarenakan kebanyakan mereka tinggal secara bersamaan di kamp-kamp pengungsian dengan jarak yang minim antar satu dengan lainnya.

Penulis menilai bahwa pemberian vaksin bagi pengungsi semestinya memiliki urgensi yang sama dengan penduduk di suatu negara. Mengutip dari The Guardian, Sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) António Guterres meminta kepada negara-negara untuk melihat persebaran vaksin ini sebagai “global public good” dan memastikan agar ketersediaan vaksin dapat dijangkau oleh semua orang dari berbagai kalangan. PBB dalam hal ini melakukan hal yang tepat, karena memang semestinya hak untuk mendapatkan kesehatan dan fasilitasnya merupakan hak milik semua orang dan juga menjamin bahwa tidak ada seorangpun yang tertinggal. Salah satu negara yang telah mengimplementasikan nilai “global public good” dalam strategi dan program vaksin mereka yaitu Yordania. Yordania merupakan negara pertama yang mengikutsertakan pengungsi dalam pemberian vaksin secara gratis. Seorang pengungsi di Yordania yang telah terdaftar di United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) asal Irak bernama Raia Al-Kabashi sebagai penerima vaksin pertama dari kalangan pengungsi pada tanggal 14 Januari 2021 lalu. Raia dan suaminya bernama Ziad mendapatkan vaksin asal Cina, yaitu vaksin Sinopharm. Kemudian, pada hari itu juga dilakukan pemberian vaksin kepada 43 orang pengungsi lainnya di Chest and Diseases Center di Mafraq, yang di mana pengungsi tersebut berasal dari Kamp Pengungsian Za’atari di Yordania. Hal tersebut merupakan bentuk kepedulian yang ditunjukkan oleh Yordania dari segi kemanusiaan terhadap pengungsi di negara mereka. Langkah ini juga tidak menutup kemungkinan untuk menciptakan kesehatan yang merata dan pencegahan virus COVID-19 yang cenderung efektif karena melibatkan kesehatan semua kalangan penduduk Yordania baik warga negara dan juga pengungsi di negara mereka.

Raia AlKabashi stands under the flag of Jordan outside the health centre in Irbid where she received her COVID-19 vaccine.

(Raia Al-Kabashi di depan Pusat Kesehatan di Irbid, tempat di mana ia diberi vaksin COVID-19. Sumber: https://www.unhcr.org/news/latest/2021/1/60003c044/iraqi-couple-among-worlds-first-refugees-covid-19-jab.html, Hak Cipta: UNHCR/Jose Cendon)

Apa yang dilakukan oleh Yordania dapat dijadikan contoh oleh negara-negara lain sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama manusia. Dengan melibatkan seluruh kalangan masyarakat, baik warga negara serta pengungsi dapat memaksimalkan efektivitas program pencegahan penularan COVID-19 melalui vaksin. Kepedulian Yordania ini juga menjadi peringatan tersendiri bagi negara-negara yang masih menyampingkan masalah pemberian vaksin untuk pengungsi di negaranya. Namun, bagi negara-negara yang akan mengikuti jejak Yordania tentu akan perlu menyiapkan dana tambahan untuk program vaksin mereka.

Keseluruhan opini dalam tulisan ini merupakan pandangan penulis dan tidak merepresentasikan PCD Studies Center

0Shares
Categories: Opinion

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *