Persoalan Pengembangan Human Enhancement pada Institusi Militer dan Dampaknya di Masa Depan

Gaizka Hergi Alhabsyi (2021)
          Seiring perkembangan zaman, bayangan manusia pada teknologi telah jauh berkembang melalui ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan oleh tangan umat manusia sendiri. Adanya keinginan untuk berevolusi dengan tujuan mempermudah keberlangsungan hidup, membuat manusia terus menggencarkan perkembangan ilmu serta teknologi dengan tujuan. Namun hal ini justru membentuk suatu ketergantungan antara manusia dengan ciptaannya sendiri. Kedepannya, tingkat ketergantungan manusia terhadap teknologi akan berubah menjadi suatu keinginan untuk mengintegrasikan dirinya kedalam rangkaian teknologi, sehingga teknologi dan manusia menjadi suatu entitas yang tidak dapat dipisahkan. Tujuannya untuk mencapai kemampuan yang lebih dari sekadar apa yang dimiliki saat ini sehingga dapat mempermudah keberlangsungan hidup.
            Penulis menilai bahwa adanya keinginan manusia untuk berevolusi dengan pengetahuan yang dimiliki saat ini adalah permulaan lahirnya human enhancement, tulisan ini ditulis dengan asumsi dan pengandaian yang beredar terhadap perkembangan teknologi umat manusia di bidang human enhancement, hal ini dikarenakan belum ada pernyataan resmi negara yang memiliki  teknologi ini. Human enhancement dapat digambarkan sebagai usaha untuk mengembangkan kemampuan manusia  melampaui batas dari manusia normal. Salah satu institusi memiliki ketertarikan terhadap human enhancement adalah institusi militer. Dalam sebuah tulisan berjudul Soldier 2.0: Military Human Enhancement and International Law  oleh Heather A. Harrison Dinniss dan Jann K. Kleffner, Amerika dan Prancis telah menyetujui penggunaan modafinil, yaitu jenis obat obatan yang digunakan  untuk menangani rasa kantuk pada prajurit. Medikasi ini sangat membantu dikarenakan kemampuan bertahan tanpa tidur dan lelah ketika melakukan operasi adalah keunggulan dalam  menjalankan operasi militer.
          Di dalam tulisan yang sama juga dikatakan bahwa human enhancement  tidak terbatas pada peningkatan melalui obat-obatan, melainkan juga upaya peningkatan biokimia dan sibernetika untuk tubuh manusia. Penggunaan biokimia adalah penggunaan obat – obatan atau senyawa kimia lainnya untuk meningkatkan kemampuan prajurit secara spesifik. Penggunaan obat – obatan seperti modafinil terbukti efektif meningkatkan kemampuan prajurit saat melakukan operasi militer, walau efek jangka panjang dari penggunaan obat – obatan ini masih jadi perdebatan. Instrumen lain yang digunakan dalam mengembangkan human enhancement adalah sibernetika. Sibernetika sendiri sudah menjadi teknologi yang sering digambarkan pada budaya populer khususnya perfilman. Film seperti Universal Soldier, Blood Shot, atau bahkan Iron Man, adalah gambaran paling umum untuk menjelaskan sibernetika. Namun usaha sibernetika yang paling sering muncul ketika mencari tulisan akademik mengenai isu human enhancement adalah brain-machine interfaces, sederhananya teknologi ini memungkinkan otak manusia berhubungan langsung dengan komputer atau AI melalui sistem saraf tanpa perlu perangkat input apapun.
          Usaha human enhancement saat ini masih menggunakan obat – obatan sebagai instrumen meningkatkan kemampuan prajurit, namun melihat perkembangannya bukan tidak mungkin dalam waktu dekat sibernetika akan digunakan. Pada saat ini penggunaan human enhancement masih terbatas pada penggunaan obat – obatan yang fungsinya pun terbatas pada daya tahan prajurit, seperti penggunaan modafinil. Namun jika kita mengandaikan teknologi human enhancement mampu membuat prajurit yang tidak perlu tidur, mampu bertahan lebih lama dari prajurit biasa dengan logistik yang sangat terbatas, memiliki ketahanan tubuh lebih kuat akibat dari rekayasa genetik atau obat – obatan, maka prajurit seperti ini akan sangat berguna melakukan operasi militer di kawasan sekutu bahkan di kawasan musuh. Negara yang memiliki pasukan dengan kemampuan seperti ini tentu mampu mengubah arah politik dunia melalui pengaruh besar militer mereka.
          Usaha menggunakan sibernetika tentu adalah usaha paling menarik dan menjanjikan, melalui brain-machine interface prajurit mampu membuat keputusan yang objektif dan terukur karena berintegrasi dengan komputer atau artificial intelligence. Kemampuan yang  sudah berintegrasi dengan komputer ini membuat kemampuan antara hasil human enhancement dan prajurit normal semakin jauh, semakin jauh kemampuan prajurit hasil human enhancement dan prajurit biasa akan membuat human enhancement menjadi daya tarik baru negara – negara adidaya. Walau terdengar seperti sci-fi, pengetahuan dan teknologi umat manusia  sekarang memiliki peluang besar berada pada titik tersebut. Elon Musk dengan perusahaan neurolink adalah salah satu pembuktian bahwa umat  manusia semakin dekat dengan teknologi ini.

(Sumber:https://www.wearethemighty.com/mighty-tactical/military-create-army-super-soldiers/, Copyright :  we are the mighty/Blake Stilwell)

          Pengembangan human enhancement pada bidang militer tentu saja memberikan implikasi terhadap konsep-konsep dasar yang telah lama disepakati, seperti konsep human rights, kebebasan individu, atau bahkan pada tingkat yang lebih ekstrem manusia harus memikirkan ulang definisi dari manusia. Penggunan human enhancement untuk tujuan militer juga membuat para pembuat kebijakan harus mendefinisikan ulang hak yang dimiliki hasil human enhancement, baik sebagai prajurit atau sebagai manusia. Berbeda dengan nuklir, hasil human enhancement masih manusia yang memiliki hak atas kebebasan dan punya kehendak bebas.
          Dampak dari human enhancement lain bukan hanya jurang yang semakin lebar antara manusia biasa dan hasil dari human enhancement tetapi juga negara super power dan negara lain. Keunggulan prajurit hasil human enhancement tentu hanya dapat dirasakan oleh negara dengan kekuatan ekonomi besar dikarenakan teknologi seperti ini membutuhkan dana yang lebih besar dari sebelumnya. Ketimpangan yang semakin besar antara negara yang mampu memiliki teknologi ini dengan negara yang tidak memiliki teknologi tersebut akan menyebabkan ketidakseimbangan kekuataan pada politik dunia. Jika mengingat masa perang dingin ketika Amerika Serikat memulai  usaha membuat bom nuklir, usaha tersebut langsung diikuti oleh negara lain.  Dalam sebuah tulisan Alex Ward di situs Vox, ia menyampaikan dua alasan negara memiliki nuklir, alasan pertama adalah untuk pertahanan negara  dan alasa kedua adalah untuk prestige. Kedua alasan tersebut nampaknya bisa digunakan sebagai alasan negara memulai perlombaan percobaan prajurit human enhacement. Prajurit hasil human enhancement tentu akan sangat berguna untuk pertahanan negara dan memiliki nilai  prestige karena merupakan pengembangannya  memerlukan teknologi yang maju sama seperti nuklir pada masa perang dingin. Perkembangan human enhancement bisa saja menjadi alat memengaruhi politik internasional seperti senjata nuklir pada awal kemunculannya.
          Dalam usaha mencegah kekacauan tersebut, menyusun ulang penggunaan human enhancement untuk keperluan militer dapat memberikan jawaban atas permasalahan di atas. Salah satu cara paling efektif untuk dilakukan adalah membentuk rezim internasional yang mengatur penggunaan prajurit hasil dari human enhancement. Rezim tersebut harus mampu menjelaskan hak dari prajurit hasil human enhancement, serta menjawab persoalan apakah hasil human enhancement mempunyai hak yang setara dengan manusia  normal. Adanya pembentukan rezim internasional terkait human enhancement juga dapat menciptakan kondisi politik internasional lebih stabil. Rezim internasional yang mengikat negara-negara pemilik prajurit hasil human enhancement akan tetap dapat diawasi oleh negara-negara yang tidak memiliki teknologi human enhancement.
          Namun terdapat hambatan utama pembentukan rezim ini yaitu terlalu banyaknya hal yang harus dibongkar serta dimuat dalam satu rezim internasional. Membentuk rezim mengenai human enhancement artinya mengharuskan pembuat kebijakan untuk membongkar ulang konsep yang sudah ada sebelumnya. Apa yang terdapat pada Deklarasi Universal  HAM harus dirumuskan ulang melalui rezim ini, karena adanya kemungkinan prajurit hasil human enhancement berada jauh di atas manusia  biasa. Pembentukan rezim internasional juga memungkinkan pemangku kebijakan mengatur bagaimana prajurit hasil human enhancement dapat hidup berdampingan dengan masyarakat. Hal ini tetap perlu mendapatkan perhatian dikarenakan seiring berjalannya waktu, pembuat kebijakan ataupun akademisi HI harus terus menyesuaikan diri untuk mengejar tuntutan perkembangan teknologi serta untuk mencegah potensi masalah di masa depan.

Keseluruhan opini dalam tulisan ini merupakan pandangan penulis dan tidak merepresentasikan PCD Studies Center

0Shares
Categories: Opinion

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *