Salsabila (2021)

sebuah papan iklan di wilayah yang tidak diketahui menunjukkan seorang ibu yang memberi makan anaknya dengan Indomie (Sumber : Kaskus)

Fakta Indonesia sebagai negara yang kaya patut kita syukuri. Indonesia kaya dari segi SDM, SDA, budaya, hingga makanannya. Tercatat ada lebih dari 5.300 jenis makanan asli Indonesia. Sebagai contoh, rendang yang merupakan jagoannya gastrodiplomasi memiliki 15 variasi masakan yang tersebar di berbagai daerah di Sumatera. Begitupun dengan soto, Indonesia memiliki 70 jenis soto dengan ciri khas berbeda di setiap tempat. Karena banyaknya jenis makanan yang ada lantas manakah yang menjadi ciri khas Indonesia ? Pada akhirnya, keanekaragaman ini menciptakan kebingungan bagi pemerintah maupun masyarakat internasional. Pemerintah sebagai penanggungjawab utama dalam Gastrodiplomasi Indonesia dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang masih belum terjawab hingga sekarang. Indonesia adalah negara maritim, tetapi mengapa 5 makanan andalannya yaitu soto, rendang, sate, nasi goreng, dan gado-gado yang merupakan makanan agraris ?. Pertanyaan tentang ikon Gastrodiplomasi Indonesia sampai sekarang masih dipertanyakan karena pemerintah belum menetapkan satu makananpun yang menjadi ikon Indonesia. Selain permasalahan ikon Gastrodiplomasi Indonesia yang belum jelas, 5 makanan andalan Indonesia juga belum tentu cocok di lidah masyarakat internasional. Di negara-negara Melanesia contohnya, rendang ataupun sate tidak cocok digunakan di sana karena masyarakatnya lebih akrab dengan makanan yang berbahan dasar sea food sehingga makanan yang berbahan dasar hewan ternak sulit di terima. Berbeda dengan Melanesia, di Turki, gado-gado kurang digandrungi di negara tersebut. Masyarakat Turki terbiasa memakan daging-dagingan daripada sayur-sayuran. Hal ini dicerminkan dalam keputusan Turki yang mengambil Kebab daging sapi sebagai andalannya.

Lalu, bagaimana dengan Gastrodiplomasi Indonesia di Afrika ?. Gastrodiplomasi Indonesia di Afrika memiliki kondisi yang lebih baik dibandingkan di negara lain karena di Afrika, Indomie menjadi ikon Gastrodiplomasi Indonesia. Ada rumor yang menyebutkan masyarakat di Nigeria mengganti kata ‘’mi’’ menjadi ‘’Indomie’’. Karena populernya mi instan tersebut, sebagian masyarakat di Afrika Barat menjadikan Indomie sebagai makanan pokok. hal ini dikarenakan varian rasa dari Indomie yang beragam cocok dengan lidah mereka. Alasan kedua adalah harganya yang murah dan terjangkau menjadi daya tarik sendiri yang dapat menggaet masyarakat Afrika untuk membeli Indomie. Kepopuleran Indomie di Afrika disambut baik oleh pemerintah setempat karena Indomie dianggap menjawab permasalahan ketahanan pangan yang ada di benua tersebut mengingat kelangkaan dan mahalnya produk hasil pertanian serta tingginya angka pertumbuhan penduduk menyebabkan Indomie lebih banyak diminati daripada beras. Pada tahun 1995 PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. membuka pabrik Indomie di Nigeria, pabrik ini menjadi gerbang utama masuknya Indomie ke Afrika sekaligus sebagai pabrik Indomie terbesar. Indofood tidak berhenti disitu saja, mereka mendirikan pabrik Indomie di Mesir tahun 2009, yang disusul oleh Sudan tahun 2011 dan Maroko tahun 2016. Tentunya hal ini menjadi kabar baik untuk Indonesia di tengah kebingungan mengenai ikon Gastrodiplomasi Indonesia serta ditengah regulasi Eropa dan Amerika yang mengatur makanan yang sesuai dengan standar kesehatan mereka, di Afrika justru sebaliknya. Regulasi di Afrika tidak terlalu ketat dengan syarat makanan tersebut dikemas dengan baik, mudah penyajiannya dan terjangkau harganya, sehingga masyarakat dan pemerintah disana cenderung akan menerimanya. kini, pesona mi instan Indonesia di Afrika mengalahkan mi instan yang berasal dari Vietnam dan China. Kehadiran Indomie di Afrika secara tidak langsung telah memberikan harapan bagi dunia Gastrodiplomasi Indonesia karena di benua ini masyarakat menentukan Ikon Indonesia dan menerima setiap varian rasa yang disuguhkan.

seluruh pandangan dari tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak merepresentasikan PCD Studies Center.

 

0Shares
Categories: Opinion

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *