Mohamad Jauhar Alaudin Syah (2021)

Aligarh Muslim University

Pendahuluan

keamanan India terancam dengan hadirnya “taliban state” (Sumber : The Express Tribune)

Dunia dikejutkan dengan kembalinya Taliban sebagai penguasa di Afghanistan pada tanggal 15 Agustus 2021 sebagai efek dari angkat kakinya Amerika Serikat dari negeri yang mendapat julukan “Graveyard of Empires”. Disaat yang bersamaan, Tiongkok langsung mengambil tindakan dengan mengakui pemerintahan Taliban dan bersedia memberikan dukungan baik dalam hal politik maupun ekonomi. Ternyata, hal tersebut dapat menjadi potensi ancaman stabilitas dalam hal pertahanan dan keamanan beberapa negara, khususnya di wilayah Asia Selatan. Kali ini, penulis akan membahas tentang potensi ancaman dalam hal pertahanan dan keamanan bagi salah satu negara yang paling berpengaruh di Asia Selatan yaitu, India. Alasan bagi penulis dalam membahas isu mengenai keamanan kali ini adalah karena adanya hubungan antara Taliban dan beberapa kelompok yang dianggap sebagai kelompok teror yang bermarkas di Pakistan, rival India. Alasan kedua, hubungan antara India dan Tiongkok sedang memburuk karena masalah perbatasan, dan seperti yang kita ketahui Tiongkok adalah sekutu dari Pakistan.

Kenangan Buruk India dengan Taliban

India sejak dulu memiliki riwayat hubungan yang buruk dengan Taliban. Pembajakan pesawat Indian Airlines IC-814 pada Desember 1999 yang dilakukan oleh empat orang dari grup Harkat-ul-Mujahideen yang mengalihkan rute penerbangan dari Delhi ke Kathmandu menuju ke Kandahar yang pada saat itu dikuasai Taliban (Sarosh, 2021). Pembajakan tersebut berujung pada pelepasan 27 dari 176 sandera, dengan 1 korban tewas. Beberapa penumpang lainnya terluka, dan hasil negosiasi antara pihak pemerintah dengan pihak pembajak berujung pada pembebasan tiga orang teroris yaitu Mushtaq Ahmed Zargar, Ahmed Omar Saeed Sheikh, dan Masood Azhar. Ketiga orang tersebut kemudian terlibat aksi teror di India yang berupa penculikan dan pembunuhan Daniel Pearl pada tahun 2002 dan serangan teror Mumbai pada tahun 2008. Salah satu dari tiga orang tersebut yaitu Maulana Masood Azhar merupakan pendiri dari kelompok Jaish-e-Mohamed yang bertanggung jawab terhadap aksi penyerangan parlemen India pada Desember 2001, dan juga penyerangan di Pulwama, Jammu & Kashmir pada bulan Februari 2019 yang menewaskan 40 aparat keamanan. Kedua kelompok yang berbasis di Pakistan, diketahui memiliki hubungan yang cukup erat dengan Taliban. Ternyata kelompok Jaish-e-Mohamed dibentuk di Afghanistan dan sengaja ditempatkan di Pakistan untuk melancarkan serangan teror terhadap India (Petersen, 2021). Dengan naiknya kembali Taliban sebagai penguasa di Afghanistan, maka India bisa menganggap hal tersebut sebagai ancaman baru, terutama dalam potensi serangan teror yang mungkin terjadi di masa depan.

Antara India, Pakistan, Taliban dan China

Keberhasilan Taliban dalam mengambil alih pemerintahan Afghanistan pada tanggal 15 Agustus 2021 dapat berpengaruh terhadap dinamika geopolitik wilayah Asia Tengah dan Asia Selatan. Afghanistan yang sebelumnya dipimpin oleh presiden Ashraf Ghani, memiliki hubungan yang cukup erat dengan New Delhi, bahkan negara yang dipimpin oleh Perdana Menteri Narendra Modi itu melakukan banyak kerjasama dalam bidang pembangunan seperti bangunan Bendungan Salma di provinsi Herat dan Jalan Tol Zaranj-Delaram yang terletak di dekat perbatasan Iran. Kedua negara juga memiliki hubungan dagang yang didukung oleh lalu lintas udara antara Kabul-Delhi dan Herat-Delhi (Sarosh, 2021). Dengan kembalinya Taliban hubungan tersebut terganggu bahkan terhenti karena Afghanistan yang sebelumnya menjadi sekutu India, kini menjadi sekutu Pakistan. Perubahan aliansi ini menjadi sebuah kemenangan bagi Pakistan, karena kelompok Taliban memiliki hubungan yang erat dengan negeri Ali Jinnah tersebut. Mereka mendapat perlindungan ketika terjadi invasi AS pada tahun 2001 pasca 11 September. Bahkan tidak jarang berkembangnya Taliban beserta kelompok turunannya tidak luput dari keterlibatan Inter-Services Intelligence (ISI) dalam hal pelatihan dan pendanaan. Aliansi Pakistan-Taliban menjadi ancaman serius bagi keamanan wilayah India, terutama wilayah Kashmir yang sekarang masih menjadi wilayah sengketa. Isu separatisme yang diperparah dengan blokade berkepanjangan pasca ditariknya Act 370 yang menjadikan status Jammu & Kashmir sebagai Princely State menjadi Union Territory di bawah kendali New Delhi. Perubahan ini mempermudah Pakistan untuk mendoktrin anggota baru untuk masuk ke Jaish-e-Mohammed dan Lashkar-e-Taiba untuk memberontak kepada pemerintah India. Kebijakan PM Narendra Modi yang cenderung represif terhadap umat Muslim akan memperparah potensi ancaman jihadis yang tidak hanya berada di Kashmir, namun juga yang tersebar di seluruh India (Prabash, 2021). Sebuah kejutan! Tiongkok menyatakan dukungannya terhadap Taliban. Republik Rakyat Tiongkok menjadi salah satu negara yang mengakui kedaulatan pemerintahan Taliban setelah hengkangnya Amerika Serikat dari Afghanistan. Ini menjadi kesempatan bagi negeri tirai bambu untuk menancapkan pengaruhnya di wilayah Asia Tengah, dan juga mendapatkan sumber daya alam berupa Mineral yang bernilai kurang lebih 1 Triliun Dollar AS (Prabash, 2021). Dengan hilangnya presensi Amerika Serikat di Afghanistan, India mendapat posisi yang tidak menguntungkan dalam masalah perbatasan. Pasalnya, wilayah Line of Actual Control memiliki medan yang berupa pegunungan dan tebing, sehingga batas wilayah sering tumpang-tindih antara pihak Tiongkok dan India. Tak jarang, sering terjadi bentrokan antar penjaga perbatasan seperti peristiwa bentrokan di lembah Galwan pada bulan Juni 2020 (Soutik, 2020). Kedua belah pihak juga bersikap saling tuding satu sama lain. Hingga kini belum ada penyelesaian untuk masalah perbatasan yang berakibat hubungan antara India dan Tiongkok menjadi semakin renggang.

Kesimpulan

Pada tulisan ini, penulis berfokus pada potensi ancaman terhadap India dengan kembalinya Taliban dan masuknya Tiongkok ke Afghanistan pasca keluarnya AS. Afghanistan yang semula menjadi sekutu terdekat India dalam membendung pengaruh Tiongkok maupun Pakistan, kini berbalik menjadi sebuah ancaman besar bagi India. Kenangan buruk di masa lalu dengan Taliban berupa serangan teror dan separatisme di wilayah Kashmir kemungkinan dimotori oleh kelompok Jaish-e-Mohamed dan Lashkar-e-Taiba yang berbasis di Pakistan, namun dibentuk dan dilatih di Afghanistan. Hubungan yang erat antara kedua kelompok tersebut baik dengan Pakistan maupun Taliban menjadi hal yang menurut penulis berpotensi menjadi ancaman yang serius bagi keamanan domestik India kedepannya. Perseteruan antara India dan Tiongkok mengenai perbatasan yang tidak kunjung usai dan perebutan pengaruh di wilayah Asia Tengah dan Selatan tentunya menjadi hal yang serius bagi India. Pasalnya posisi India menjadi tidak menguntungkan karena Pakistan dan Tiongkok adalah sekutu erat.

seluruh pandangan dari tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak merepresentasikan PCD Studies Center.

0Shares
Categories: Opinion

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *