Satya Wira Wicaksana (2021) [1]

Band Nasyida Ria dengan peralatan musik lengkap (Sumber: NU Online)

Mari kita kesampingkan sejenak mengenai halal-haram musik atau bagaimana selera musik anak-anak HI seharusnya. Saya bukan polisi skena musik yang menghakimi selera musik orang lain atau menjustifikasi siapa yang lebih Punk dari yang lain. Tulisan ini pada dasarnya hasil obrolan sore-sore dengan beberapa pelaku seni musik di lingkungan saya, tetapi saya menemukan hal yang menarik di dalamnya; bagaimana musik menjadi medium refleksi kehidupan, baik empiris atau habis begitu saja untuk kepuasan kepala seperti Great Debates di kurikulum HI. Sebab, musik juga mampu menangkap realitas sosial.

Dari sekian seri perdebatan itu, setidaknya HI mengajarkan agar tidak baper karena kritik yang membesarkan ruang akademik di HI. Selain itu, sebaiknya memang kita tidak perlu mengafirmasi habis-habisan apa yang dikatakan Barat dalam HI (meski pun tulisan masih mengutip karya-karya orang ‘Barat’). Lagi, dalam menyemarakkan ulangtahun PBB ke-76, mari kita ambil sikap acuh yang lebih punya makna sebab peradaban telah capek diakomodasi oleh PBB dari masih adanya Hak Veto yang dimiliki The Big Five sampai konsep Responsibility to Protect (R2P) yang penuh konflik kepentingan. Meski demikian, PBB masih dapat dianggap sebagai organisasi yang mampu diharapkan—walau banyak PR di dalamnya.

PBB sendiri, sering menjajakan aktor-aktris bahkan seniman ternama untuk memberikan pidato di ruang sidang. Dari Emma Watson, sampai BTS sebagai corong halyu di tataran global. Mengapa kita tidak mengusung yang lebih punk atau yang lebih ‘intelektual organik’ untuk berpidato di hadapan para pemimpin negara itu?

Hubungan Internasional sebagai konsentrasi penjuruan mengklaim kalau jurusan tersebut memiliki kekhasan (peculiarity) dalam bidang Ilmu Politik. Beberapa diantaranya dapat diafirmasi, tetapi beberapa konsep dasarnya memang hasil kutipan dari bidang ilmu lainnya. Alhasil, mahasiswa HI sering terperangkap bagaimana piawai mengenakan suite and tie, mengikuti MUN (Model United Nations), dan berbicara tentang perdamaian dunia tanpa nuklir atau tanpa agresi atau tanpa apa pun. Saya pribadi tidak paham mengenai hal ini, entah perkara ontologis dari HI yang belum kelar atau marketing yang bagus tentang dunia internasional.

Di masa—yang agak naif—dapat dikatakan damai seperti sekarang ini, aliran pemikiran Realisme yang mementingkan self-help dan maksimalisasi power suatu negara memang habis-habisan dibantah oleh keadaan. Sebab, dunia mengalami perubahan dan evolusi dari konflik itu sendiri. Tidak relevannya penggunaan militer sebagai Hard Diplomacy menjadi titik fokus perbincangan dunia sekarang ini. Kita dapat melakukan pembacaan teks pada karya Keohane dan Nye untuk melihat realitas sekarang ini dan betapa irelevannya penggunaan kekuatan militer sebagai respon utama dalam dunia yang saling kebergantungan (interdependence) (Keohane & Nye, 2012).

Keohane dan Nye pada dasarnya membantah ulang para Realis yang memandang keadaan internasional dalam kaidah politik berjalan di bawah tipe yang ideal dan lagi-lagi; negara sebagai aktor rasional selalu memiliki kanker sejak dulu; struggle for power. Keohane dan Nye menawarkan satu konsep (yang juga debateable) untuk memandang dunia kiwari; Complex Interdependence. Setidaknya, ada beberapa kriteria mengenai Complex Interdependence: multiple channels, absence of hierarchy among issues, dan minor role of military force.

Multiple Channels diartikan sebagai banyaknya elemen yang terkoneksi secara global, seperti masyarakat, termasuk hubungan antarnegara, antar-pemerintah, dan transaksi transnasional yang semua ini merupakan hal kontra dari unitary state sebagai asumsi dari realisme. Dalam keadaan kontemporer, hal ini dapat dilihat dari, misalnya bagaimana pengaruh halyu dari Korea Selatan membentuk persepsi masyarakat global memandang Korea Selatan. Lainnya, dapat berupa bagaimana Cina melakukan kerjasama dengan Afghanistan, atau aktivisme global mengenai isu-isu kontemporer.

Absence of Hierarchy among Issues, diartikan sebagai kaburnya agenda antarnegara mengenai isu-isu internasional. Dalam kacamata realis, permasalahan selalu dibahas mengenai keamanan dan militer, namun agenda internasional pada saat ini lebih memiliki keberagaman dan tidak selalu membahas pertahanan, keamanan, dan militer. Secara global, dapat dilihat bagaimana isu-isu agenda internasional berbicara mengenai hak hidup, harapan hidup, akses air, atau secara umum pada dilihat bagaimana agenda-agenda PBB pada UNDP yang berbicara mengenai pengembangan negara dan masyarakat.

Minor Role of Military Force, dilihat bagaimana peran militer dikurangi dalam dunia yang terglobalkan pada masa sekarang ini. Militer tidak lagi diposisikan sebagai instrumen untuk menyelesaikan konflik atau sengketa ekonomi antarnegara. Terlebih penggunaan militer penuh akan ketidakpastian dan menghabiskan biaya. Singkatnya, penggunaan militer sebagai instrumen utama dalam perangkat kebijakan untuk menyelesaikan masalah telah dikesampingkan dalam keadaan sekarang ini. Hal tersebut dapat dilihat bagaimana bermunculannya Capacity Building Measures (CBMs) untuk membahas sengketa dagang, mekanisme resolusi konflik dengan pendekatan yang non-militer saat ini.

Tentu, untuk menawarkan cara pandang yang baru tidak cukup dengan Keohane dan Nye. Pembacaan teks lainnya menuju Barry Buzan. Buya satu ini sering berbicara mengenai bagaimana pada dasarnya isu-isu keamanan itu dikonstruksikan. Buzan melihat hal tesebut dengan menggunakan konsep Sekuritisasi; bagaimana isu normal politics ditransformasikan security issues.

Perluasan makna keamanan yang semula bersifat militer-sentris menjadi interpretasi lintas sektoral merupakan fenomena dasar pertahanan saat ini. Perluasan makna keamanan berpendapat bahwa keamanan tidak milik militer lagi tapi tanpa mengabaikan sepenuhnya. Sebaliknya, isu keamanan kontemporer dilanjutkan dengan pendalaman makna keamanan bahwa negara tidak lagi menjadi aktor utama keamanan yang disebabkan oleh keamanan sekarang berbicara tentang keamanan di bidang sosial, politik, ekonomi, budaya dan lingkungan. Secara global, fenomena ini menjadi penyebab munculnya aliran-aliran baru dalam memahami keamanan, seperti Human Security, Copenhagen School yang berbicara tentang Sekuritisasi, serta dikotomi antara ancaman militer dan non-militer (Paris, 2001).

Dari sekian banyaknya cara pandang yang ditawarkan di HI, semua hal yang relevan pada sekarang ini bermuara kepada satu hal; bagaimana seharusnya cara pandang yang menjamur dengan variannya dipakai pula untuk kehidupan-kehidupan sederhana. Barangkali sesederhana tulisan ini untuk mengusung Nasida Ria untuk memberikan pidato di Majelis Umum PBB (UNGA). Kelompok musik kasidah yang dibentuk di era Perang Dingin ini telah menyelesaikan satu kurikulum 101 di jurusan Hubungan Internasional dan telah menampik mengenai perdebatan siapa atau yang paling Punk di skena musik progresif. Barangkali kita dapat menjadikan hal ini untuk bahan tertawaan, tapi Nasida Ria lebih Punk dibanding The Ramones (setidaknya bagi saya) atau ketika kita capek-capek mengimajinasikan dunia tanpa negara (Post-Westphalian System) terbentur pada lirik Imagine-nya si Lenon, atau lebih ‘etis’ dan progresif dibanding bank punk commie macam Rage Against The Machine.

Musik mempertemukan antara perbincangan-perbincangan di HI dan aktivisme di tataran global. Hal itu tidak mengherankan ketika saya berbincang dengan kolega saya yang melanjutkan pendidikan pascasarja di UGM, mengambil lagi tentang HI. Salah satu tugas kuliahnya adalah menafsirkan lagi dari lanskap Perang dan Militerisme, lebih spesifik mengenai Parade Pendekatan terhadap Perang dari Freud sampai Galtung. Bahkan diminta untuk menginterpretasikan bagaimana lirik lagu dari B.Y.O.B dari System of A Down dalam melihat atau membantah atau bahkan menopang perang.

Dalam lagunya, Bom Nuklir, Nasida Ria telah berbicara bagaimana seharusnya seluruh negara di dunia mengadopsi cita-cita mengenai Non-Proliferasi Senjata Nuklir sejak banyaknya kegagalan di rezim internasional dalam mengelola anggota negara di dalamnya. Bahkan dalam lagunya itu, Nasida Ria tidak terhenti pada kritik bagaimana seharusnya nuklir tidak dijadikan senjata dan seharusnya produksi bom nuklir dihentikan. Tapi Bom Nuklir melanjutkan kritiknya agar dunia lebih mementingkan Keamanan Manusia yang berfokus kedaulatan pangan, kesehatan, bahkan segala tujuan yang diusung UNDP melalui Sustainable Development Goals (SDGs).

Selain merangkum kurikulum HI dalam satu lagu, Nasida Ria membantu dalam melakukan refleksi kritis kalau HI bukan lagi segala tentang Barat; bagaimana politik luar negeri merupakan refleksi dari kepentingan dalam negeri. Agaknya, Buzan perlu mendengarkan lagu ini agar melanjutkan (atau menyelesaikan?) bukunya yang berbicara tentang Non-Western Perspective dalam HI lantaran Nasida Ria berhasil melakukan De-Sekuritisasi secara global dalam satu lagu.

Selain itu, tanpa menyulut perang dengan BTS Army, saya mengajukan Nasida Ria untuk memberikan pidato di UNGA dengan mengkritik habis-habisan inkonsistensi Hak Veto dalam mimpi non-proliferasi senjata nuklir. Siapa bisa menampik kalau Nasida Ria akan menjadi duta perdamaian dan keamanan manusia yang diusung International Atomic Energy Agency (IAEA) nantinya. Sebagai catatan; lirik Bom Nuklir lebih progresif dibanding Sunset di Tanah Anarki oleh Superman Is Dead.

Sumber bacaan:

Keohane, R. O., & Nye, J. S. (2012). Power and Interdependence. Boston: Little, Brown.

Paris, R. (2001). Human Security: Paradigm Shift or Hot Air? International Security, 87-102.

  1. Penulis merupakan alumnus HI UNRI Angkatan 2012 dan alumnus Pascasarjana Manajemen Pertahanan UNHAN RI Cohort 11. Saat ini mengajar di beberapa tempat dan menulis untuk Forum for Academician of International Relations South East Asia (FAIR.SEA). Sekali-kali misuh.

 

seluruh pandangan dari tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak merepresentasikan PCD Studies Center.

 

0Shares
Categories: Opinion

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *