Satya Wira Wicaksana [1]

kampanye Plus-Size oleh Victoria Secret (Sumber: Twitter)

Beberapa waktu lalu, hiruk pikuk media sosial diisi oleh kabar mengenai pandemic dan inefisiensi pemerintah dalam menanggulanginya. Akan tetapi, hiruk pikuk lainnya berangkat dari isu kelas menengah (atas) mengenai kecantikan. Barangkali, kecantikan kerap dijadikan bahan hiruk pikuk dunia. Atau sekadar mengubah hal-hal biasa yang kemudian diubah menjadi banalitas yang asing dari sebelumnya. Tentu, kita jadi tak heran bagaimana kecantikan juga berkontribusi pada kesalahan kimia pada otak yang kerap diasumsikan sebagai cinta pada pandangan pertama.

Hiruk pikuk mengenai kecantikan yang menjadi sorotan tulisan saya diawali oleh seorang influencer Indonesia yang mengomentari beberapa model Victoria Secret dengan kalimat-kalimat yang pejoratif. Tidak berhenti di situ, para model dalam pagelaran tersebut juga harus menerima body shaming yang dilontarkan pada mereka. Dalam pagelaran tersebut—para model itu disebut sebagai Victoria Secret Angels—model-model yang ‘ditampilkan’ hadir dengan konsep kecantikan yang berbeda dengan sebelumnya dengan mengusung Victoria Secret Plus-Size. Alhasil, “Plus-Size” diharap memberikan konsekuensi pada pandangan masyarakat mengenai seksualitas pada perempuan, seharusnya tidak lagi dipandang dengan standar kecantikan yang tinggi dan utopia, seperti tubuh yang seksi, langsing, putih, dan ideal.

Standar kecantikan, baik tinggi atau rendah, pada akhirnya tetap jatuh pada ranah subjektif. Ranah subjektivitas tersebut pada akhirnya meletakkan kecantikan pada ranah yang relatif untuk tataran umum. Hal ini terdengar sedikit ambivalen, tetapi ranah relatif tersebut menegasikan standar kecantikan yang kaku atau yang tinggi dan manusia dapat berkompromi akan hal itu bahwa kecantikan adalah kekhasan yang tidak dapat dilekatkan pada standar mana pun. Sementara ranah subjektif adalah cara personal yang menginterpretasikan bagaimana kecantikan didefinisikan untuk dan menurut dirinya sendiri.

Hiruk pikuk mengenai kecantikan dan standar yang terus dilekatkan padanya ini seharusnya membuat kita masuk ke dalam refleksi kritis untuk mempertanyakan; apa yang membuat ‘cantik’ sehingga ia dapat dikatakan ‘cantik’?

Pertanyaan di atas merupakan preteks dari bagaimana kondisi dunia sekarang menginterpretasikan kecantikan dalam lanskap kapitalisme. Dalam kalimat lain, banalitas dalam standar kecantikan tidak lebih dari produk kelas sosial.

Kita dapat membedah persepsi mengenai kecantikan secara global. Di beberapa negara Asia Tenggara, persepsi masyarakat secara mayoritas mengenai kecantikan adalah tentang sensualitas yang dibalut dengan lekuk tubuh yang langsing, sexy, tentu juga dengan warna kulit yang putih. Di negara tropis seperti Indonesia ini, hanya kelas menengah yang dapat merengkuh standar kecantikan tersebut. Sebut saja beberapa keunggulan (privilege) kepada perempuan-perempuan dengan standar tersebut hanya diisi oleh kalangan kelas menengah dan atas. Keunggulan-keunggulan yang dimiliki dapat berupa bagaimana konsumerisme dapat berlangsung pada jumlah dan harga kosmetik yang mampu merias diri menjadi berbinar, atau secara praksis kantor dengan pendingin ruangan, kendaraan roda empat yang mampu menghalau panasnya daerah tropis dan radikal bebas di jalan, dan tentu saja aksesibilitas kelas menengah yang mampu mempertahankan gizi harian. Keunggulan-keunggulan tersebut tentu menghasilkan konsekuensi materil berupa standar kecantikan yang diasumsikan relevan dengan persepsi masyarakat di Asia Tenggara.

Sementara itu, di belahan dunia lainnya yang dispesifikasikan pada Eropa dan Amerika Serikat yang diisi mayoritas oleh masyarakat dengan kulit putih. Tentu, persepsi kecantikan yang dihadirkan pada persepsi masyarakat di sana bukan seperti kecantikan yang dimiliki mayoritas masyarakat Asia Tenggara. Bagi sebagian besar kulit putih di Barat, kecantikan adalah hal-hal visual mengenai eksotisme, kulit coklat (tan) atau gelap, dan sensualitas dan seksualitas tidak melulu mengenai pakem Asia Tenggara. Tapi, hal tersebut juga merupakan bias kelas sosial mengenai kelas menengah dan atas.

Meski pun eksotisme diasumsikan sebagai hal-hal ke-Timur-an atau non-Barat, kulit gelap atau coklat, kecantikan dengan persepsi tersebut juga berangkat dari bagaimana keunggulan-keunggulan (privileges) yang dimiliki kelas menengah dan atas. Dengan kondisi geografi dan iklim yang berbeda dengan Asia Tenggara, keunggulan-keunggulan tersebut hanya dimiliki beberapa orang yang mampu berlibur ke daerah-daerah eksotis dan destinasi pariwisata tropis.

Selain produk dari bias kelas, persepsi mengenai kecantikan di berbagai budaya juga merupakan produk dari feodalisme dan kolonialisme. Asia Tenggara yang mayoritas diisi oleh negara-negara bekas jajahan dan negara dunia ketiga, sementara peradaban Barat (generalisasi) diisi oleh negara-negara yang pada masa lalu melakukan kolonialisme. Sehingga, menghasilkan kondisi superior-inferior complex.

Secara historis, Barat sendiri dalam jejak kolonialismenya memandang Timur sebagai, apa yang dianggap Barat mengenai Timur pada bingkai Orientalisme, tidak lepas dari Messiah Complex untuk melihat Timur sebagai objek yang harus di-adab-kan dan menjadikan Orientalisme sebagai sebuah kendaraan untuk mewarisi tradisi dan budaya kolonial pada masa sebelumnya. Konsekuensinya adalah eksistensi Timur yang secara paradigmatik mengandung muatan inferioritas dan dikonstruksikan dari determinisme biologis dan pengajaran moral politis (a la Barat). Pada akhirnya, Timur tidak lagi dipandang dalam kacamata geopolitik belaka, tetapi juga antropologis dengan nuansa yang pejoratif dan yang-harus-didisiplinkan. Timur juga digambarkan dengan suatu keindahan dekonstruktif dan kesenangan idilis.

Sementara jejak inferioritas daerah Timur, terlebih Indonesia dalam Asia Tenggara, terletak pada pemberhalaan segala hal yang dimiliki kulit putih atau bahkan campuran, baik budaya, pandangan hidup, atau bahkan bentuk tubuh, hingga kriteria mengenai kecantikan. Tak heran, kita masih sering melakukan swafoto dengan orang kulit putih dari benua Eropa atau Amerika. Pemberhalaan kita meruncing dan teradikalisasi dalam cara kita melekatkan konsep-konsep kecantikan sesuai dengan permintaan kolonialisme, feodalisme, atau bahkan kapitalisme.

Dari kontradiksi mengenai persepsi akan kecantikan tersebut, pada akhirnya segala hal mengenai kecantikan yang ada pada dunia modern kali ini akan bermuara pada pendobrakan-pendobrakan standar kecantikan dari tuntutan kelas sosial. Objektifikasi keindahan atau kecantikan pada laki-laki dan perempuan memang seharusnya tidak lagi dipandang sebagai eskapisme manusia untuk melepas penat yang merupakan kompleksitas hasil dari tuntutan dan tawaran.

Terlepas dari jender apa pun, standar kecantikan yang diusung dari kepentingan kelas yang mampu menciptakan kondisi antara tawaran dan tuntutan akan memperpanjang alienasi (keterasingan) pada diri manusia. Alienasi yang meruncing tersebut pada akhirnya memandang manusia sebatas objek dan manusia (terlebih perempuan) hanya akan dipandang dari modal fisik apa yang dimiliki untuk melengkapi kebutuhan visual, kelas sosial, hingga pasar.

Hiruk pikuk yang dihasilkan oleh influencer dan plus-size yang diusung oleh Victoria Secret, seharusnya tidak lagi dikonsumsi oleh masyarakat. Sebab, keduanya saling mengkapitalisasi kecantikan itu sendiri. Kampanye dalam pagelaran Victoria Secret Plus-Size berbicara mengenai kepentingan pasar (brand) dalam balutan visual mengenai tipe-tipe perempuan, sementara komentar pejoratif oleh influencer tak lebih dari sekadar pemberhalaan standar kecantikan yang diadopsi karena sikap inferioritas.

Dalam banalitas yang kerap muncul ini, kita patut mempertanyakan mengenai apa yang membuat sesuatu atau seseorang dianggap cantik atau indah? Akhirnya, kita memang harus mendobrak dengan cara berkompromi kalau kecantikan adalah anomali di setiap kebudayaan dan persepsi kita berutang banyak pada ‘kecacatan’ (flaws) yang membuat kita dapat menentukan atau bahkan menuntut akan sesuatu atau seseorang pada akhirnya dianggap cantik atau indah.

Hiruk pikuk ini, tidak lebih dari kebisingan yang dibuat oleh aktor-aktor kelas sosial tertentu (menengah dan atas). Sementara kita memang harus mendobraknya.

  1. Penulis merupakan alumnus HI UNRI Angkatan 2012 dan alumnus Pascasarjana Manajemen Pertahanan UNHAN RI Cohort 11. Saat ini mengajar di beberapa tempat dan menulis untuk Forum for Academician of International Relations South East Asia (FAIR.SEA). Sekali-kali misuh.

seluruh pandangan dari tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak merepresentasikan PCD Studies Center.

 

0Shares
Categories: Opinion

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *