Salsabila (2022)

Transisi penggunaan energi fosil ke energi terbarukan menjadi penyebab krisis energi di sejumlah negara. Peralihan sumber energi ini ikut mempengaruhi stabilitas sistem sosial-ekonomi di negara tersebut. Negara-negara maju yang meratifikasi Perjanjian Paris dituntut untuk melakukan percepatan transisi menuju emisi karbon rendah (net-zero emission) sesegera mungkin, akibatnya negara mengalokasikan anggaran dana pada sektor infrastruktur menuju energi hijau lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya. Dalam proses pembangunan infrastruktur ini terjadi paradox greenflation yang berimbas besar pada sektor sosial-ekonomi masyarakat. Teknologi pendukung untuk membangun infrastruktur energi hijau saat ini masih menggunakan bahan bakar fosil, sehingga diperlukan konsumsi bahan bakar fosil yang besar pada masa transisi. Sedangkan di lain sisi, produksi dan distribusi bahan bakar fosil terus dikurangi demi mencapai target emisi karbon rendah. Akibatnya energi fosil mengalami kelangkaan yang pada akhirnya menjadikan harga bahan bakar fosil semakin melonjak. Melonjaknya harga bahan bakar fosil tentunya sangat menguras anggaran negara sebab bahan bakar fosil diperlukan juga untuk menggerakan perekonomian. Adanya perubahan di bidang ekonomi akan berimbas pula pada perubahan sosial.

Di benua Eropa, Jerman menaikan upah minimum dari 9,35 euro per jam menjadi 12 euro per jam. Kenaikan ini diawali kenaikan harga energi yang disusul dengan kenaikan harga pangan. Di Inggris, kelangkaan energi juga terjadi. Inggris sebagai negara subtropis membutuhkan energi yang sangat banyak ketika hendak memasuki musim dingin. Tetapi, pada musim dingin tahun lalu Inggris mengalami kelangkaan energi sebab Rusia memutuskan untuk mengurangi ekspor bahan bakar fosil ke Inggris, sedangkan sumber energi hijau yang Inggris miliki tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Akibatnya sejumlah kawasan di Inggris mengalami pemadaman akibat kekurangan energi. Hal serupa juga terjadi di Tiongkok, otoritas setempat memutuskan untuk melakukan pemadaman di sejumlah kawasan karena kelangkaan energi yang menimpa negaranya. Tiongkok telah melakukan revolusi besar terhadap negaranya untuk beralih ke energi terbarukan dengan membangun panel-panel surya dan turbin angin raksasa untuk menyuplai kebutuhan listrik, tetapi sumber energi tersebut belum bisa mencukupi kebutuhan energi dalam negerinya. Sebagai sumber energi yang mengandalkan alam, panel surya dan turbin angin sangat bergantung pada keadaan cuaca. Di negara subtropis, panel surya akan efektif bekerja di musim panas karena matahari bersinar terus menerus selama empat bulan. Ketika itulah panel surya bisa mendapatkan energi dan menyimpan sejumlah cadangan untuk digunakan, akan tetapi ketika musim dingin tiba panel surya tidak mendapatkan sumber cahaya dan kemudian kehilangan efektifitasnya. Turbin angin pun akan sulit menghasilkan energi listrik di musim yang kurang berangin.

Masa transisi menuju energi hijau tampaknya memang mencekik negara-negara maju sebab target netral karbon yang dibebankan pada negara-negara tersebut mengorbankan kepentingan sosial-ekonomi. Pada masa transisi ini, energi terbarukan belum terbukti bisa menggantikan energi fosil karena terbatasnya jumlah infrastruktur pendukung energi hijau. Para aktivis lingkungan sepertinya harus sabar menunggu impian dunia netral karbonnya terwujud hingga masa transisi selesai karena bagi negara –bahkan negara kuat seperti Tiongkok sekalipun, mengganti sumber energi dari fosil ke energi terbarukan bukan perkara yang mudah. Pergantian sumber energi ini sejatinya adalah pergantian revolusioner yang merombak sistem yang sudah ada. Negara harus mengganti sumber listrik utama di negaranya, pelaku usaha juga harus mengganti sumber energi untuk kegiatan produksi mereka dan masyarakat juga harus beralih menggunakan kendaraan yang ramah lingkungan. Perombakan ini tidak hanya mengganti sumber energi tetapi juga mengganti teknologi-teknologi yang ada –seperti mesin produksi dan sepeda motor- ke versi terbaru pendukung energi hijau seperti mobil listrik, motor listrik atau mesin-mesin produksi yang bertenaga listrik. Meskipun masa transisi merupakan masa yang sulit tetapi perubahan ke penggunaan sumber energi hijau tidak boleh dihentikan karena ini merupakan investasi masa depan.

Seluruh pandangan dari tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak merepresentasikan PCD Studies Center.

0Shares
Categories: Opinion

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *