Charisya

(2022)

Menlu Rusia Sergey Lavrov dan Menlu Iran Amir Abdollahian. Foto Kementerian Luar Negeri/Rusia

Pada tanggal 22 juni 2022 kemarin, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov baru saja melakukan kunjungan ke Iran ditengah adanya upaya barat yang berusaha untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir 2015 atau yang biasa kita kenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) . Sergei Lavrov menyampaikan salam hangat dan harapan terbaik dari Presiden Rusia, Vladimir Putin kepada Presiden Iran, Ebrahim Raisi, yang tentu saja salam hangat tersebut disambut baik oleh Ebrahim Raisi yang juga berterima kasih serta mengapresiasi penerapan hasil pertemuan mereka sebelumnya pada Januari lalu.

Sergei Lavrov menyampaikan bahwa, Presiden Rusia rutin mengadakan pertemuan dan membahas mengenai adaptasi di bidang ekonomi, sosial, perbankan, dan keuangan terhadap realita yang muncul sebagai akibat dari kebijakan agresif dan egoisme pihak Barat. Sergei juga menyatakan bahwa beberapa negara turut merasakan dampak tersebut. Hal itu pula yang menyebabkan munculnya kebutuhan untuk mengatur ulang hubungan ekonomi masing-masing negara yang terkena pengaruh negatif tersebut, agar nantinya dapat menghindari ketergantungan pada keinginan dan perubahan mitra Barat. Artinya, beberapa negara mengatur ulang hubungan ekonomi nya agar dapat mengurangi ketergantungan pada pihak Barat, tak terkecuali Rusia dan Iran.

Pertemuan ini tentu menimbulkan beberapa pertanyaan dipikiran beberapa pihak seperti, “Bagaimana Iran menyikapi konflik antara Rusia dan Ukraina?” dan “Bagaimana Iran mengambil posisi di tengah invasi militer Rusia di Ukraina?”.

Pada pertemuan yang diadakan, Rusia dan Iran membahas perkembangan kerjasama bilateral diantara kedua belah pihak, perjanjian nuklir 2015 yang sempat terhenti, hingga membahas krisis Ukraina yang mana nantinya akan menajdi isu utama dalam pembahasan selama pertemuan berlangsung. Pembahasan dalam pertemuan tersebut dapat dilihat dari unggahan klip pidato pembukaan Sergei Lavrov dengan presiden iran yang diunggah oleh Kementrian Luar Negeri Rusia.

Sebelum melihat bagaimana kerjasama bilateral antara Iran dan Rusia, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa, kedua negara ini sejak awal ternyata sudah memiliki hubungan yang baik sejak tahun 1500. Meski mengalami dinamika dalam hubungan mereka, kini dapat terjalin hubungan ekonomi yang baik di antara keduanya. Lantas bagaimana hubungan Iran dan Rusia yang sudah dimulai sejak tahun 1500 ini?

Hubungan antara Iran dan Rusia tergolong sangat lama karena dimulai sejak 1500. Hubungan di antara keduanya dimulai sejak kegiatan perdagangan yang dibarengi dengan penaklukkan Ivan the Terrible yang selanjutnya membuka jalur antara Muscovy dan Iran yang kemudian diberi nama Volga-Caspian. Selanjutnya, pada tahun 1979 setelah revolusi Iran yang mengalami perpindahan penguasa, Iran menetapkan salah satu prioritas utamanya yaitu kemajuan dan pembangunan kembali angkatan bersenjata Iran. Pada tahun 1980-an Tiongkok dan Korea Utara menjadi pemasok utama senjata untuk Garda Revolusi Islam dan pada tahun 1990-an dan beberapa hal mulai berubah secara drastis. Rusia (Moskow) menjadi pemasok utama senjata konvensional Iran. Hal ini dibuktikan pada tahun 1995 hingga 2000 dimana, Moskow melakukan transfer senjata dengan nilai yang sangat besar yaitu 1 milliar dollar. Di antara senjata konvensional yang dipasok oleh Moskow kepada Tehran selama bertahun-tahun, terdapat tiga senjata konvensional yang menonjol. Pertama, Kapal selam kelas (Kilo-class submarines). Kedua, S-300 Air Defene Missile Systems. Ketiga, MiG-29 Fighter Jets. Tiga ini merupakan yang paling signifikan di antara banyaknya senjata yang telah ditransfer dari Moskow kepada Tehran.

Seperti yang sudah penulis paparkan di atas, hubungan antara Iran dan Rusia tentunya mengalami pasang surut. Meskipun hubungan Iran dan Rusia sudah berjalan lama, nyatanya hubungan kedua negara ini tidak selalu berjalan mulus. Pada abad ke – 19, pernah terjadi perang pertama antara Rusia dan Iran yang berlangsung selama sembilan tahun yaitu dari tahun 1804 – 1912 yang disusul perang kedua pada tahun 1826 – 1828 yang merupakan lanjutan konflik pertama. Namun, 10 tahun berikutnya, hubungan Iran dan Rusia kembail menguat didukung oleh ambisi Rusia untuk menyaingi Amerika Serikat.

Semenjak meletusnya invasi militer Rusia di Ukraina, Rusia dikenai sanksi oleh Amerika Serikat. Sedangkan pada Iran, bagian ekonominya mendapatkan sanksi yang diterapkan kembali oleh Amerika Serikat pada tahun 2018, yang kemudian disusul oleh penarikan Washington dan perjanjian nuklir 2015. Padahal, kedua negara ini sama-sama memiliki cadangan minyak dan gas yang besar, namun, keduanya dikenai sanksi yang membatasi ruang ekspor hasil produksi negara mereka. Itulah mengapa, pada Januari 2022 lalu, Ebrahim berkunjung ke Moskow untuk memberikan Putin rancangan dokumen mengenai kerjasama strategis yang akan mempererat kerjasama bilateral di antara keduanya selama dua dekade mendatang. Beberapa faktor yang menjadi penyebab kuat agar berlanjutnya kerjasama antara Rusia dan Iran ialah semenjak neraca perdagangan Rusia dan Iran pada tahun 2021 lalu meningkat 81%. Sehingga, mencatat rekor dengan menyentuh angka US$3,3 Milliar. Sehingga, pada tahun 2022 ini, Iran meningkatkan targetnya agar mampu menembus US$10 Milliar.

Berdasarkan pemaparan penulis mengenai hubungan masa lalu antara kedua negara, pembahasan pada beberapa pertemuan yang diadakan, dampak yang mengenai keduanya akibat egoisme pihak barat, hingga melihat bagaimana keinginan Rusia untuk menyaingi Amerika Serikat yang sangat tinggi, dapat ditarik garis besar bahwa Iran dan Rusia merupakan dua negara yang tidak hanya saling bergantung dalam bidang ekonomi, tetapi juga merupakan dua negara yang turut merasakan hal yag sama atas dampak dari kebijakan egoisme barat.

Hingga saat ini, banyak pakar belum melihat gerak-gerik Iran dalam mengambil keputusan mengenai posisinya, bahkan semenjak Rusia memulai operasi militer khusus di Ukraina. Posisi yang dimaksud ialah apakah akan bermusuhan dengan Rusia atau berada di pihak Rusia. Iran kini juga terlibat dalam proses dialog multilateral dengan banyak negara Barat termasuk Amerika Serikat tentang perjanjian nuklir 2015. Sehingga, penulis menyimpulkan hal ini juga yang membuat Iran menjadi netral dalam memposisikan diri.

Penulis juga menilai Iran mengambil posisi netral karena dalam beberapa pidato nya Iran turut menghimbau negara-negara untuk bersikap netral terkait konflik antara Rusia dan Ukraina agar dapat melihat secara objektif permasalahan yang menyebabkan perang di antara kedua negara tersebut.  Iran menganggap pemilihan sikap netral ini diperlukan agar nantinya dapat mengambil solusi dari konflik dan menciptakan perdamaian. Berdasarkan penjelasan di atas, penulis menyimpulkan Iran akan tetap memilih untuk berada diposisi netral, yaitu tidak bermusuhan dengan Rusia, namun secara tidak langsung juga tidak memilih untuk memihak kepada Barat. Iran juga memilih untuk berada diposisi netral serta minghimbau negara lain untuk melakukan hal yang sama agar dapat terciptanya perdamaian dan dapat menghasilkan solusi dari konflik tersebut.

Seluruh pandangan dari tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak merepresentasikan PCD Studies Center.

0Shares
Kategori: Opinion

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *